Rabu, 22 April 2015

Apa cita-citamu?
            Setiap orang pasti memiliki sebuah cita-cita yang ingin dicapai bukan? Ya, semua orang pastinya memiliki cita-cita karena pada dasarnya cita-cita muncul karena adanya sebuah mimpi atau keinginan. Apa cita-citamu? Saat masih SD pasti kita pernah mendapatkan pertanyaan seperti itu, dan kebanyakan dari kita sebagai anak-anak pasti menjawab ingin menjadi dokter, pilot, astronot, polisi, tentara, dan tidak ketinggalan ingin menjadi seorang Guru. Profesi guru sepertinya menjadi pilihan terbanyak yang muncul saat ditanyakan kepada para anak. Saat saya masih sd dulu juga menjawab ingin menjadi guru. Mengapa? Saya juga kurang tahu kenapa saya menjawab seperti itu, entah karena ikut teman-teman atau ada faktor lain. Ternyata cita-cita masa kecil saya ingin menjadi seorang guru agaknya diamini oleh malaikat J, karena saat ini ternyata saya diberi kesempatan untuk meneruskan studi saya di jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Menjadi seorang guru tentunya merupakan profesi yang mulia. Banyak faktor yang mendorong dan membawa saya pada akhirnya terjerumus ke dalam jurusan ini. Latar belakang keluarga saya memang latar beakang pendidik. Seorang ayah guru dan ketiga kakak perempuan yang juga berprofesi sebagai guru. Mungkin dari itulah saya akhirnya terdampar di jurusan Pendidikan sebagai jalan menuju cita-cita yang mulia. Amin
            Guru kata orang jawa yaitu orang yang digugu dan ditiru. Seorang guru memang memiliki peranan yang sangat penting dalam kemajuan suatu bangsa. Guru juga bagaikan air segar yang senantiasa menyirami tunas-tunas bunga yang nantiya akan mekar mewangi. Masih ingatkah siapa guru favoritmu? Setiap siswa pasti memiliki guru favorit, guru yang selalu ditunggu-tunggu kehadirannya. Saat saya masih sd hingga masuk jenjang sma, guru yang selalu menjadi favorit saya adalah guru bahasa indonesia. Bahkan saya masih ingat betul siapa nama – nama guru bahasa indonesia sejak saya sd hingga saya sma. Kebanyakan dari mereka adalah seorang wanita yang penyayang dan sabar dalam menyampaikan materi bahasa. Menjadi guru bahasa indonesia memang harus telaten dan sabar, apalagi selama ini kebanyakan masyarakat sering menyepelekan pelajaran bahasa indonesia. Mereka menganggap enteng pelajaran bahasa indonesia, karena merasa sebagai orang indonesia pastinya sudah pandai menggunakan bahasa indonesia tanpa belajar lebih. Pandangan salah tersebut yang saat ini menjadi target baru saya sebagai calon guru bahasa indonesia untuk mengubah persepsi masyarakat. Bahasa indonesia memang merupakan bahasa nasional negara indonesia, justru karena itulah kita harus dan wajib mempelajari bahasa indonesia mulai dari sejarah, bentuk, dan struktur didalamnya. Bahasa indonesia sebenarnya tidak hanya digunakan untuk alat komunikasi saja, jauh dari fungsi itu banyak sekali fungsi-fungsi lain yang sangat kita butuhkan untuk menjalankan kegiatan bermasyarakat. Contoh sederhana, saat kita sudah lulus dari perguruan tinggi kita pastinya membutuhan pekerjaan, untuk mendapatkan sebuah pekerjaan yang cocok kita harus membuat surat lamaran untuk perusahaan atau instansi- instansi terkait. Dalam pembuatan surat lamaran inilah fungsi bahasa indonesia sangat penting. Tidak mungkin kita menggunakan bahasa jawa, bahasa madura, ataupun bahasa sunda dalam surat lamaran tersebut. Kita pasti akan menggunakan bahasa indonesia sebagai bahasa nasional. Penulisannyapun tidak bisa sembarangan, ada beberapa prosedur yang harus ditaati saat menulis surat lamaran. Dari itu semua kita dapat melihat betapa pentingnya seorang guru bahasa untuk mengajarkan bahasa indonesia dan segala materi yang ada di dalamnya.
            Menjadi seorang guru memang tidak mudah. Selain memiliki guru favorit, siswa juga pasti memiliki guru yang kurang disukai. Kebanyakan kriteria guru-guru tersebut adalah guru yang kurang ramah dan membosankan saat mengajar. Terkadang terlintas dalam fikiran saya bahwa sebenarnya seorang siswa itu pada dasarnya ingin diperhatikan, ingin disayang oleh gurunya. Tapi pada kenyataannya banyak sekali guru yang masih mendeskriminasi siswanya. Merangkul siswa-siswa yang pintar dan mengabaikan mereka-mereka yang mengalami keterbelakangan kognisi. Hal inilah yang menjadi salah satu faktor mengapa siswa tidak suka bahkan membenci guru. Menjadi guru juga terkadang merasa serba salah, saat kita terlalu ramah terhadap siswa, mereka cenderung berbuat “ngelenyit”, tetapi saat guru memberi sikap yang tegas terhadap siswa, mereka mendadak membisu bahkan menggerutu dibelakang kita. Itulah yang akan menyulitkan guru nantinya dalam penyampaian materi. Di dalam jurusan yang saat ini saya tempuh terdapat mata kuliah psikolinguistik, yakni perpaduan ilmu antara psikologi dan linguistik. Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang gejala kejiwaan sedangkan linguistik adalah ilmu yang mempelajari tentang bahasa. Jadi psikolinguistik di sini merupakan ilmu yang mengkaji tentang hubungan antara gejala kejiwaan dan perilaku berbahasa pada setiap manusia. Dari ilmu tersebut seorang guru dituntut dapat memahami berbagai keadaan yang terdapat pada siswa. Kekreatifan guru dalam membawa suasana kelas menuju suasana ynag ceria dan kondisional sangatlah penting. seorang guru juga dituntut dapat menyesuaikan seluruh kemampuan kognisi siswa yang berbeda –beda dengan materi ajar yang disajikan.
            Jika ditanya, mengapa kamu ingin menjadi guru? bukanya ribet? Sebenarnya saya tidak hanya ingin menjadi seorang guru tetapi saya ingin menjadi guru yang profesional. Istilah pahlawan tanpa tanda jasa agaknya tidak lagi berlaku di era 20an ini. Setiap guru pasti ingin mendapatkan royalti sebagai timbal balik terhadap apa yang telah diberikan kepada peserta didik. Terkadang saya merasa sedih melihat banyak guru yang hanya mementingkan gaji daripada kualitas ilmu yang mereka sampaikan. Menurut saya profesi guru adalah profesi yang sangat mulia. Sama halnya tukang tambal ban selain menjadikannya sebagai  pekerjaan, mereka juga menjadi penolong bagi pengendara saat mengalami musibah saat perjalanan. Saya ingin menerapkan teori tukang tambal ban ini dalam profesi guru saya nanti. Jadi, selain memberikan materi ajar kita sebagai para guru juga menjadi penolong, penerang, dan penggugah semangat tunas-tunas bangsa serta pembangun akidah mulia para siswa. Menjadi guru yang benar – benar profesional dalam menyampaikan ilmu, dapat memberikan kemanfaatan tiada tara kepada para siswa memang tidak mudah, tetapi saya yakin dengan niat yang baik ini semoga Allah dapat mewujudkannya. Sesungguhnya ilmu yang bermanfaat itu datangnya dari hati yang ikhlas. Menjadi manusia yang akan  berprofesi sebagai seorang guru membuat saya termotivasi untuk lebih bersemangat belajar, belajar tentang bahasa indonesia dan belajar ikhlas dalam belajar. Itu semua tidak lain demi kemanfaatan ilmu yang akan saya ajarkan dan demi kemajuan para siswa saya nantinya.
            Sekian sedikit isi hati saya yang mungkin juga menjadi harapan besar saya kedepannya.  Semoga para calon guru benar-benar bisa menjadi lentera di keremang-remangan bangsa kita saat ini.

Oleh: Yuli Amalia Cln. S.Pd J