Apa cita-citamu?
Setiap orang pasti
memiliki sebuah cita-cita yang ingin dicapai bukan? Ya, semua orang pastinya
memiliki cita-cita karena pada dasarnya cita-cita muncul karena adanya sebuah
mimpi atau keinginan. Apa cita-citamu? Saat masih SD pasti kita pernah
mendapatkan pertanyaan seperti itu, dan kebanyakan dari kita sebagai anak-anak
pasti menjawab ingin menjadi dokter, pilot, astronot, polisi, tentara, dan
tidak ketinggalan ingin menjadi seorang Guru. Profesi guru sepertinya menjadi
pilihan terbanyak yang muncul saat ditanyakan kepada para anak. Saat saya masih
sd dulu juga menjawab ingin menjadi guru. Mengapa? Saya juga kurang tahu kenapa
saya menjawab seperti itu, entah karena ikut teman-teman atau ada faktor lain.
Ternyata cita-cita masa kecil saya ingin menjadi seorang guru agaknya diamini
oleh malaikat J, karena saat ini ternyata saya diberi kesempatan
untuk meneruskan studi saya di jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Menjadi
seorang guru tentunya merupakan profesi yang mulia. Banyak faktor yang
mendorong dan membawa saya pada akhirnya terjerumus ke dalam jurusan ini. Latar
belakang keluarga saya memang latar beakang pendidik. Seorang ayah guru dan
ketiga kakak perempuan yang juga berprofesi sebagai guru. Mungkin dari itulah
saya akhirnya terdampar di jurusan Pendidikan sebagai jalan menuju cita-cita
yang mulia. Amin
Guru kata orang jawa yaitu
orang yang digugu dan ditiru. Seorang guru memang memiliki peranan yang sangat
penting dalam kemajuan suatu bangsa. Guru juga bagaikan air segar yang
senantiasa menyirami tunas-tunas bunga yang nantiya akan mekar mewangi. Masih
ingatkah siapa guru favoritmu? Setiap siswa pasti memiliki guru favorit, guru
yang selalu ditunggu-tunggu kehadirannya. Saat saya masih sd hingga masuk
jenjang sma, guru yang selalu menjadi favorit saya adalah guru bahasa
indonesia. Bahkan saya masih ingat betul siapa nama – nama guru bahasa
indonesia sejak saya sd hingga saya sma. Kebanyakan dari mereka adalah seorang
wanita yang penyayang dan sabar dalam menyampaikan materi bahasa. Menjadi guru
bahasa indonesia memang harus telaten dan sabar, apalagi selama ini kebanyakan
masyarakat sering menyepelekan pelajaran bahasa indonesia. Mereka menganggap
enteng pelajaran bahasa indonesia, karena merasa sebagai orang indonesia pastinya
sudah pandai menggunakan bahasa indonesia tanpa belajar lebih. Pandangan salah
tersebut yang saat ini menjadi target baru saya sebagai calon guru bahasa
indonesia untuk mengubah persepsi masyarakat. Bahasa indonesia memang merupakan
bahasa nasional negara indonesia, justru karena itulah kita harus dan wajib
mempelajari bahasa indonesia mulai dari sejarah, bentuk, dan struktur
didalamnya. Bahasa indonesia sebenarnya tidak hanya digunakan untuk alat
komunikasi saja, jauh dari fungsi itu banyak sekali fungsi-fungsi lain yang
sangat kita butuhkan untuk menjalankan kegiatan bermasyarakat. Contoh
sederhana, saat kita sudah lulus dari perguruan tinggi kita pastinya membutuhan
pekerjaan, untuk mendapatkan sebuah pekerjaan yang cocok kita harus membuat
surat lamaran untuk perusahaan atau instansi- instansi terkait. Dalam pembuatan
surat lamaran inilah fungsi bahasa indonesia sangat penting. Tidak mungkin kita
menggunakan bahasa jawa, bahasa madura, ataupun bahasa sunda dalam surat
lamaran tersebut. Kita pasti akan menggunakan bahasa indonesia sebagai bahasa
nasional. Penulisannyapun tidak bisa sembarangan, ada beberapa prosedur yang
harus ditaati saat menulis surat lamaran. Dari itu semua kita dapat melihat
betapa pentingnya seorang guru bahasa untuk mengajarkan bahasa indonesia dan
segala materi yang ada di dalamnya.
Menjadi seorang guru
memang tidak mudah. Selain memiliki guru favorit, siswa juga pasti memiliki
guru yang kurang disukai. Kebanyakan kriteria guru-guru tersebut adalah guru
yang kurang ramah dan membosankan saat mengajar. Terkadang terlintas dalam
fikiran saya bahwa sebenarnya seorang siswa itu pada dasarnya ingin
diperhatikan, ingin disayang oleh gurunya. Tapi pada kenyataannya banyak sekali
guru yang masih mendeskriminasi siswanya. Merangkul siswa-siswa yang pintar dan
mengabaikan mereka-mereka yang mengalami keterbelakangan kognisi. Hal inilah
yang menjadi salah satu faktor mengapa siswa tidak suka bahkan membenci guru.
Menjadi guru juga terkadang merasa serba salah, saat kita terlalu ramah terhadap
siswa, mereka cenderung berbuat “ngelenyit”, tetapi saat guru memberi sikap
yang tegas terhadap siswa, mereka mendadak membisu bahkan menggerutu dibelakang
kita. Itulah yang akan menyulitkan guru nantinya dalam penyampaian materi. Di
dalam jurusan yang saat ini saya tempuh terdapat mata kuliah psikolinguistik,
yakni perpaduan ilmu antara psikologi dan linguistik. Psikologi adalah ilmu
yang mempelajari tentang gejala kejiwaan sedangkan linguistik adalah ilmu yang
mempelajari tentang bahasa. Jadi psikolinguistik di sini merupakan ilmu yang
mengkaji tentang hubungan antara gejala kejiwaan dan perilaku berbahasa pada
setiap manusia. Dari ilmu tersebut seorang guru dituntut dapat memahami
berbagai keadaan yang terdapat pada siswa. Kekreatifan guru dalam membawa
suasana kelas menuju suasana ynag ceria dan kondisional sangatlah penting.
seorang guru juga dituntut dapat menyesuaikan seluruh kemampuan kognisi siswa
yang berbeda –beda dengan materi ajar yang disajikan.
Jika ditanya, mengapa
kamu ingin menjadi guru? bukanya ribet? Sebenarnya saya tidak hanya ingin
menjadi seorang guru tetapi saya ingin menjadi guru yang profesional. Istilah
pahlawan tanpa tanda jasa agaknya tidak lagi berlaku di era 20an ini. Setiap
guru pasti ingin mendapatkan royalti sebagai timbal balik terhadap apa yang
telah diberikan kepada peserta didik. Terkadang saya merasa sedih melihat
banyak guru yang hanya mementingkan gaji daripada kualitas ilmu yang mereka
sampaikan. Menurut saya profesi guru adalah profesi yang sangat mulia. Sama
halnya tukang tambal ban selain menjadikannya sebagai pekerjaan, mereka juga menjadi penolong bagi
pengendara saat mengalami musibah saat perjalanan. Saya ingin menerapkan teori
tukang tambal ban ini dalam profesi guru saya nanti. Jadi, selain memberikan
materi ajar kita sebagai para guru juga menjadi penolong, penerang, dan
penggugah semangat tunas-tunas bangsa serta pembangun akidah mulia para siswa.
Menjadi guru yang benar – benar profesional dalam menyampaikan ilmu, dapat
memberikan kemanfaatan tiada tara kepada para siswa memang tidak mudah, tetapi
saya yakin dengan niat yang baik ini semoga Allah dapat mewujudkannya. Sesungguhnya
ilmu yang bermanfaat itu datangnya dari hati yang ikhlas. Menjadi manusia yang
akan berprofesi sebagai seorang guru
membuat saya termotivasi untuk lebih bersemangat belajar, belajar tentang
bahasa indonesia dan belajar ikhlas dalam belajar. Itu semua tidak lain demi
kemanfaatan ilmu yang akan saya ajarkan dan demi kemajuan para siswa saya
nantinya.
Sekian sedikit isi hati
saya yang mungkin juga menjadi harapan besar saya kedepannya. Semoga para calon guru benar-benar bisa
menjadi lentera di keremang-remangan bangsa kita saat ini.
Oleh: Yuli Amalia Cln. S.Pd J